Jasa Pembuatan Website

Hal Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Jika Anak Suka Memukul

Bunda pasti terkejut saat melihat si Kecil tiba-tiba memukul temannya saat bermain hingga menangis. Setelah diselidiki, ternyata ini bukan kali pertama ia memukul. Sebelum merasa menjadi Bunda yang buruk, yuk cermati penyebab dan cara menangani anak usia bawah lima tahun (balita) yang suka memukul.

Pertama-tama Bunda perlu menerima bahwa perilaku anak yang suka memukul ini bukan selalu merupakan kesalahan atau kekurangan Bunda dalam mendidik anak. Ini juga bukan berarti anak Bunda akan tumbuh menjadi anak yang suka melakukan  perundungan (bully) anak lain. Tangan adalah alat komunikasi, terutama bagi balita yang belum lancar bicara. Memahami alasan anak memukul, akan membantu Bunda untuk mengarahkan Si Kecil.

Berbagai Kemungkinan Alasan Balita Memukul

Banyak balita memang berperilaku agresif di masa pertumbuhan. Ini dapat disebabkan banyak hal, dari yang Bunda sadari dan tidak. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya:

  • Anak mencoba mempertahankan area atau miliknya

Anak dapat melakukan kekerasan di tengah banyak anak yang mungkin membuatnya tersenggol, mengambil mainan, atau tidak bergantian bermain.  Jika kata-katanya tidak lagi didengar anak lain, ia mungkin akan memukul.

  • Tidak mampu mengungkapkan perasaannya

Anak tidak menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan kebutuhan atau keinginannya. Rasa frustrasi akibat tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkan atau dirasakan, dapat membuat anak lebih memilih untuk menggunakan tangannya untuk memukul.

  • Merasa tidak nyaman

Ia bisa memukul saat merasa lelah, lapar, mengantuk, haus, atau merasakan ketidaknyamanan lain. Bunda dapat mengurangi kemungkinan ini dengan memastikan ia sudah cukup makan dan mendapat tidur cukup sebelum bermain dengan teman-temannya.

  • Perubahan dalam keluarga

Balita bisa saja tiba-tiba menjadi suka memukul atau menggigit karena sebab tertentu seperti ada perubahan besar dalam keluarga. Perubahan ini bisa jadi pindah rumah, kelahiran adik baru, atau kekerasan dalam rumah tangga. Catat berbagai hal yang mungkin menjadi penyebab kebiasaannya memukul untuk kemudian dapat ditangani.

  • Kurang kegiatan untuk menyalurkan energi

Terkadang ia memukul karena tidak punya ruang untuk menyalurkan energinya. Bunda dapat mulai memperbanyak waktunya bermain di luar rumah agar anak dapat beraktivitas dengan lebih bebas, meski tetap dalam pengawasan Bunda.

Kontrol impuls yang belum berkembang membuat mereka memilih memukul atau menggigit sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Meski ini adalah hal yang normal, tetapi memang bukan berarti dapat Bunda abaikan. Bunda perlu memastikan ia tahu bahwa tingkah laku agresif ini tidak dapat diterima.

Tips Agar Balita Berhenti Memukul

Reaksi Bunda saat melihat ia memukul bisa jadi adalah kunci perubahan kebiasaannya. Yuk simak panduan berikut untuk mendampingi anak yang suka memukul.

  • Hindari membalas dengan menggunakan kekerasan

Memukul, mencubit, atau melakukan tindakan fisik apapun yang termasuk kekerasan pada anak justru akan membuat anak semakin beranggapan bahwa menggunakan tangan dan kaki adalah solusi. Padahal Bunda sedang ingin memberitahu bahwa memukul dan menendang itu tidak baik dilakukan.

  • Menjauhkan dari anak-anak atau orang lain

Jika ia memukul, apabila memungkinkan, jauhkan ia dari anak-anak lain untuk mengalihkan perhatiannya. Bunda dapat mengarahkannya pada mainan lain. Jika ia yang mengambil mainan anak lain, sebaiknya hindarkan ia dari mainan tersebut agar ia tahu bahwa bersikap kasar membuatnya tidak mendapatkan apapun.

  • Ajak anak berdiskusi tentang tindakannya

Setelah tenang, jika memungkinkan, ajak ia untuk mendiskusikan mengapa ia memukul. “Kamu tidak mau mainanmu diambil?” “Kamu mengantuk?” “Kamu mau makan makanan yang dimakan temanmu?” Ajarkan anak untuk mampu menyampaikan perasaannya dengan baik, agar ia kemudian belajar bahwa mengucapkan hal yang ia maksud lebih efektif dibanding memukul. Setelah itu, Bunda dapat berkata bahwa ia dapat kembali bermain hanya jika ia dapat bersenang-senang tanpa menyakiti anak lain.

  • Katakan “dipukul itu menyakitkan”

Bunda dapat jongkok hingga mata Bunda menatap sejajar matanya. Katakan dengan lembut tapi tegas, “Dipukul itu sakit. Menyakiti orang lain itu tidak baik.” Jelaskan dengan singkat bahwa tidak apa-apa untuk merasa marah. Tetapi pastikan ia untuk menjaga amarahnya agar tidak menyakiti teman.  Jika ia masih terus memukul, Bunda dapat menjauhkan si Kecil dari teman-temannya, dan menghukumnya dengan memintanya berdiam di satu tempat selama satu menit. Ini dapat memberinya kesempatan untuk menenangkan diri.

  • Minta anak untuk minta maaf

Meski mungkin ia masih menolak atau tidak tulus, tetapi setidaknya Bunda sudah mencoba menanamkan kebiasaan baik. Anak mungkin belum bisa membayangkan dirinya ada di posisi anak yang dipukulnya. Tetapi terus bantu ia memahami dan menyadari konsekuensi dari tindakannya.

  • Mengajarkan untuk menggunakan tangan secara menyenangkan.

Bunda perlu memberikan waktu untuk memeluk, membelai, ataupun memijat si Kecil agar ia belajar untuk menggunakan tangan dengan cara lembut. Jika ia ingin mulai memukul, Bunda dapat mengalihkannya misal dengan gerakan “Tos!”

  • Hindari memberikan apa yang ia mau saat memukul

Ia perlu belajar bahwa memukul tidak akan mendatangkan apapun selain hukuman atau pengabaian. Sebaliknya, berbicara dan memeluk mungkin dapat menjadi cara yang lebih efektif.

  • Batasi waktu anak mengakses media

Games, film, ataupun acara TV dapat membuat anak mudah meniru gerakan berteriak, mengancam, hingga memukul. Jadi, pastikan Bunda juga menemani, mengawasi atau membatasi apa yang ditonton anak melalui media.

Mengubah perilaku buruk juga dapat dilakukan dengan memuji tindakan baik yang dilakukan anak. Misalnya, puji ia saat ia dapat meminta temannya untuk bergantian menggunakan ayunan dengan kalimat yang baik. Senantiasa jaga pola asuh anak yang baik demi masa depannya.

Yang tidak kalah penting, konsisten dalam mendisiplinkan anak setiap kali ia memukul, sehingga balita belajar bahwa tidak ada kesempatan dan ruang untuk kekerasan. Jika perilaku memukul terus berlanjut, jangan segan meminta bantuan profesional, seperti konsultasi psikologi anak.

 

Sumber : Alodokterdotcom

Hits: 2

Jasa Pembuatan Website

Share This Post

Post Comment