Jasa Pembuatan Website

Debat Publik Pilgub Sumut: Djarot-Sihar “Libas” Edy-Ijeck

Djarot tampil begitu perkasa dalam pelaksanaan debat publik Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) malam ini. Pengalamannya yang cukup mumpuni di pemerintahan selama ini begitu kelihatan dari caranya menyampaikan dan memaparkan visi dan misi yang mereka emban.
Djarot, mantan Gubernur DKI Jakarta itu, nampak begitu tenang dalam menyampaikan pemaparan dan argumennya.

Tema yang diusung panitia penyelenggara, KPU Sumut: Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, sepertinya kurang dipahaminya. Edy justru membahas hal-hal yang tidak ada keterkaitannya dengan tema yang ditetapkan KPU itu.

Dalam menanggapi pertanyaan panelis tentang maraknya praktek pungutan liar (pungli) dan jual beli jabatan di Sumut, Djarot memilki perbedaan pendapat yang cukup jauh. Edy nampaknya ingin menempatkan dirinya sebagai antitesis Djarot. Dia tidak ingin pendapatnya sama dengan Djarot.

Djarot menyebut bahwa Provinsi Sumatera Utara yang tingkat korupsinya menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia harus mendapat perhatian khusus demi terciptanya transparansi pemerintahan.

Memperbaiki kinerja dan karakter para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan menerapkan sistem pemerintahan berbasis elektronik. Sehingga SUMUT yang selama ini dipelesetkan dengan Semua Urusan Mesti Uang Tunai, harus diubah menjadi Semua Urusan Mudah dan Transparan.

Sementara tanggapan Edy Rahmayadi tentang maraknya permasalah pungli dan jual beli jabatan di Sumut sangat menggelitik.

Menurutnya, orang-orang yang ada di pemerintahan dan para anggota DPRD adalah orang-orang terpilih dan yang baik pula. Dia tidak setuju jika SUMUT disebut sebagai daerah terkorup.

Edy, sebagai warga Sumut, bahkan merasa tersinggung jika Djarot menyebut bahwa permasalahan korupsi masih marak di Sumut. Menurutnya, di Sumut masih banyak orang baik.

Dalam hal masih adanya permasalahan pungli, dia menganggapnya karena permasalahan iman. Dia berharap agar para penyelenggara pemerintahan supaya jangan menjual imannya.

Berbicara tentang efektivitas dan efisiensi birokrasi, serta keteladan kepemimpinan, kedua pasangan calon gubernur Sumatera Utara tersebut kembali menampilkan perbedaan pendapat yang cukup bertolak belakang. Jika Djarot melihat sebuah permasalah itu lebih objektif, sebaliknya, Edy lebih subjektif.

Djarot menyebut bahwa jumlah ASN yang mencapai 29.000 orang di Sumatera Utara harus diefektifkan dan struktur birokrasinya harus dirampingkan. Menurut Djarot, ada beberapa langkah tepat yang dapat dilakukan untuk mewujudkan birokrasi yang efektif dan efisien tersebut.

Salah satunya adalah dengan merampingkan struktur birokrasi, mendorong para ASN untuk menjadi aparatur yang kreatif dan inovatif, serta menciptakan para birokrat yang profesional, serta mengubah mindset birokrasinya.

Bagaimana caranya? Seluruh ASN harus mewujudkan sasaran kinerja yang telah disepakati. Di samping itu, para ASN tersebut harus diberi tunjangan kinerja daerah berdasarkan pencapian kinerjanya.

Seorang pemimpin, menurut Djarot, harus memiliki keteladanan dalam memimpin. Dan keteladanan itu harus dimulai dari pemimpin. Seorang pemimpin semestinya menyatukan pikiran, hati, dan kata.

 

By: Hermanto Purba
Sumber: https://seword[dot]com/politik/debat-publik-pilgub-sumut-djarotsihar-libas-edyijeck-Bk-Z7rjTf

 

Hits: 22

Jasa Pembuatan Website

Share This Post

Post Comment